Transformasi Cinta : Dari Berahi menuju Syari’e

Salam.ketika sedang menulis , tersedar saya di tag oleh seorang akh. Credit to akh shahrul. Dan saya yakini kalam dari Tuhan yang dicernakan dengan indah ini patut kita kongsikan untuk manfaat bersama.

 

Wallahualam.

…………………………………………………………………………………………..

 

Bismillahirrahmanirrahim.

 

Allhumma Sholli A’la Muhammad,wa a’la aalihi Muhammad.

 

Alhamdulillah..kita sudah selesai mentadabbur bagian dari surah Yusuf A’laihiSalam pada artikel lepas.Artikel ini merupakan sambungan dari artikel Serial Tadabbur surah Yusuf.Untuk lebih memahami perjalanan artikel ini,saya memohon kepada para pembaca agar terlebih dahulu membaca siri 1 dari serial tadabur ini,iaitu Romantika Yusuf A’laihisalam.

 

 

Subhanallah walhamdulillah.Segala puji bagi Allah SWT yang telah menurunkan sebaik-baik kisah buat kita semua.Surah yang di turunkan untuk menenteramkan hati kekasihNYA yang sedang gundah gulana.Surah yang di dalamnya,terkandung pelbagai makna dan pesan-pesan Ilaahiyah.

 

“Kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad) seindah-indah kisah dengan jalan Kami wahyukan kepadamu Al-Quran ini, padahal sebenarnya engkau sebelum datangnya wahyu itu, adalah dari orang-orang yang tidak pernah menyedari akan halnya.” (Yusuf:3)

 

Alhamdulillah.Pada penulisan lepas,kita sudah mentadaburri beberapa perkara.Antara hal penting yang ingin saya tegaskan di sini ialah,betapa Nabi Yusuf A’laihissalam telah meneladankan kepada kita,beberapa kiat kiat nyata untuk menhindari dari kebahayaan zina.Sekurang-kurangnya ada 4 hal yang di tunjuki baginda Nabi Yusuf A’laihiSalam,iaitu :

 

1)     Sentiasa memohon perlindungan pada Allah SWT dan berpegang teguh kepadaNYA.. “inni maa’za Allaah..”

 

2)     Kepentingan untuk mendidik hati dengan Iman dan Taqwa sejak dini (kecil),agar hati kan senantiasa melahirkan sentakan-sentakan Iman pada saat kita berada dalam kancah kemaksiatan (*).Ini di inspirasikan daripada kesedaran Nabi Yusuf a’laihissalam untuk tersentak dari terus tergoda…”wa laqad hammat bihi,wahamma biha..laula anraa burhana rabbihi..”.Juga pentingnya peran para ibu-bapa untuk mendidik anak-anak.

 

 

3)     Berpaling dan berlari daripada sumber kemaksiatan..Ini di teladankan dari reaksi Nabi Yusuf A’laihissalam yang berpaling dan berlari dari Imraatul A’ziz,hingga terkoyak belakang bajunya.

 

4)     Memisahkan diri terus (isolasi) daripada godaan yang akan mendatangkan syahwat,Subhanallah.Saat godaan makin berleluasa,sehingga para wanita pembesar kota itu semuanya berkehendak kepada Baginda,maka penjaralah yang lebih di cintainya untuk mengisolasi dirinya dari semua godaan itu…”Robbis sijni ahabbu ilaiyyaa..”

 

…………………………………………………………………………………..

 

 

<Photo 1>

 

Tranformasi cinta : Dari Berahi kepada Syari’ee.

 

Qad syaghaffaha hubba!

 

 

 

 

“Dan (sesudah itu) perempuan-perempuan di bandar Mesir (mencaci hal Zulaikha dengan) berkata: Isteri Al-Aziz itu memujuk hambanya (Yusuf) berkehendakkan dirinya, sesungguhnya cintanya (kepada Yusuf) itu sudahlah meresap ke dalam lipatan hatinya; sesungguhnya kami memandangnya berada dalam kesesatan yang nyata.”[30]

 

Maka apabila ia mendengar cacian mereka, dia pun menjemput mereka dan menyediakan satu jamuan untuk mereka, serta memberi kepada – tiap seorang di antara mereka sebilah pisau. Dan pada ketika itu berkatalah ia (kepada Yusuf): “Keluarlah di hadapan mereka”. Maka ketika mereka melihatnya, mereka tercengang melihat kecantikan parasnya, dan mereka dengan tidak sedar melukakan tangan mereka sambil berkata: “Jauhnya Allah dari kekurangan! Ini bukanlah seorang manusia, ini tidak lain melainkan malaikat yang mulia!” [31]

 

(Zulaikha) berkata: “Inilah orangnya yang kamu tempelak aku mengenainya! Sebenarnya aku telah memujuknya berkehendakkan dirinya tetapi ia menolak dan berpegang teguh kepada kesuciannya; dan demi sesungguhnya kalau ia tidak mahu melakukan apa yang aku suruh tentulah ia akan dipenjarakan, dan akan menjadi dari orang-orang yang hina.”[32]

Menurut Zaid bin Aslam, perempuan-perempuan itu tergila-gila kepada Yusuf, sehingga tidak sadar dan kehilangan akal karena pemandangan yang mereka lihat. Melihat kejadian itu, gembiralah Imra’atul Aziz.

 

“Imra’atul Aziz,” tulis Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal Qur’an, “Melihat bahwa dirinya telah dapat mengalahkan perempuan-perempuan golongannya itu, dan mereka tercengang, terkagum-kagum, dan tergila-gila dengan munculnya Yusuf di hadapan mereka. Maka, berkatalah perempuan itu atas kemenangannya dengan tidak merasa malu-malu di depan perempuan-perempuan lain yang sejenis dan sekelas dengannya. Dan, dia membanggakan diri terhadap mereka bahwa Yusuf ini berada di dalam genggaman tangannya , meskipun dia tidak mematuhinya pada suatu kali (untuk mengajaknya berbuat serong). Tetapi,dia dapat mengendalikannya pada kali ini.(daripada hal ketaatan Yusuf A’laihiSalam kepadanya untuk keluar menampakkan diri saat di perintahkan Imra’atul Aziz.).”

 

 

Maka, kali ini tanpa rasa segan dan tanpa rasa malu, Imraa’tul Aziz mengakui di hadapan para perempuan kota itu bahwa ia memang menggoda Yusuf agar mau menjamah dirinya dan bersetubuh dengannya. Namun, ia juga mengakui bahwa Yusuf menolak mengikuti ajakannya itu (Yusuf 32). Rasa cinta yang didominasi oleh nafsu syahwati telah membuatnya menjadi perempuan yang menakutkan.

 

“Sesungguhnya,” kata Ahmad Musthafa Al Maraghi dalam tafsirnya, “Cintanya (Ra’il) kepada Yusuf telah merobek selaput jantung yang meliputinya, lalu tenggelam di dalam lubuknya. Maka dikuasailah dia oleh cintanya itu, sehingga tidak peduli lagi dengan akibat pelanggarannya atau nasib yang akan terjadi padanya.”

 

Dan demi menahan dirinya dalam kesucian dan menjauhi fitnah perempuan itu, Yusuf pun berdoa dan memilih dipenjara sesuai dengan ancaman Ra’il tempo hari. Akhirnya Yusuf pun dipenjara oleh ayah angkatnya sendiri, Menteri Kewangan Mesirr.

 

Selanjutnya, mari kita melompat lagi hingga ke adegan dimana Raja Mesir Ar Rayyan bin Al Walid telah memperoleh takwil mimpinya. Maka, ia pun ingin mengundang Yusuf agar menjadi orang kepercayaannya. Namun, Yusuf tidak mau dan meminta Raja Ar Rayyan melakukan penyiasatani atas kes perempuan-perempuan yang melukai tangannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak pernah mengkhianati ayah angkat sekaligus tuannya. Hasilnya tentu saja menguntungkan Yusuf karena akhirnya kebenaran dapat ditegakkan dan menggantikan kezhaliman yang menimpanya.

Al-Quran merakamkan saat-saat tertuduh tewas dalam menghadpai perbicaraan.”Sekarang jelaslah kebenaran itu,” kata Imraatul Aziz melihat bahwa kebenaran dan keadilan telah meninggi dan memenuhi ufuk langit, “Akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (Yusuf 51)

 

Nah, inilah titik balik yang dialami oleh Imraatul Aziz.Ia mengakui kesalahannya dan ia pun bertaubat. Taubat nasuha. Taubat sesungguh-sungguhnya. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang,” ujar Ra’il (Yusuf 53).

 

Bahkan, kemudian ia menanggalkan kesyirikan yang melekat di dalam hatinya dan kini telah tergantikan oleh ketauhidan yang murni. Kini ia menjadi seorang yang berada dalam keterserahan diri di hadapan Allah. Namun, ternyata masih ada yang belum berubah di dalam hatinya. Perempuan ini masih mencintai seseorang yang dirayunya berbuat keji dahulu. Imraa’tul Aziz masih mencintai Yusuf. Ia masih mencintainya meskipun sudah belasan tahun ia dipenjara.

“Jadikanlah aku Menteri Keuangan (Mesir),” pinta Yusuf kepada Raja Ar Rayyan, “Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Yusuf 55)

 

Permintaannya pun dipenuhi. Raja pun memecat Menteri Kewangan Qithfir dan me-reshufle kabinetnya. Ia mengangkat Yusuf menjadi Menteri Kewangan yang baru. Menurut Mujahid, beberapa malam setelah dipecat dari jabatan kementeriannya, Qithfir pun meninggal. Kemudian Raja Ar Rayyan berinisiatif untuk menikahkan Yusuf dengan janda Qithfir: Ra’il binti Ra’ayil (Imraatul A’ziz)!

 

Di kamar pengantin, di malam pertama mereka, Yusuf dan Ra’il berdua saja. Kini pintu kamar telah tertutup, dan tidak ada siapa-siapa selain mereka. Suasana ini seperti yang pernah terjadi belasan tahun silam tatkala mereka berduaan di kamar yang tertutup. Namun, kini berbeda. Kini, Yusuf bin Ya’qub adalah suami Ra’il binti Ra’ayil.

 

 

“Bukankah kesempatan seperti ini lebih baik dan terhormat daripada pertemuan kita dahulu ketika engkau menggebu-gebu melampiaskan hasratmu, wahai Ra’il?” tanya Yusuf kepada pengantin cantik di depannya. Ia mencintainya. Adegan ini dicatat Ath Thabari dalam Tarikh dan Jami’ul Bayan-nya.

 

“Wahai orang yang tepercaya,” jawab Ra’il pada Yusuf, mungkin dengan intonasi yang memanja dan menggemaskan, “Janganlah engkau memojokkanku dengan ucapanmu itu. Ketika kita bertemu dulu, jujur dan akuilah, bahwa di matamu aku pun cantik dan mempesona, hidup mapan dengan gelar kerajaan, dan segalanya aku punya.”

“Namun,” lanjutnya, “Ketika itu aku tersiksa karena suamiku tidak mau menjamah perempuan manapun, termasuk aku. Lantas aku pun mengakui dengan sepenuh hatiku akan karunia Allah yang diberikan atas ketampanan dan keperkasaan dirimu, wahai Nabi Yusuf.”

 

Selanjutnya, mereka menjalani hidup sebagai sepasang suami istri.Ibnu Katsir dalam Qishashul Anbiya’ menuliskan bahwa setelah menikahi Ra’il, Yusuf baru mengetahui bahwa Ra’il ternyata masih gadis (perawan). Penyebabnya adalah karena suaminya yang dulu adalah seorang lelaki mandul yang tidak dapat mencampuri istri-istrinya. Kemudian dari pernikahan Yusuf dan Ra’il itu lahirlah dua orang putra, yakni Afrayim dan Mansa.

 

Kita berhenti sejenak dari kisah ini.Mari kita bersama-sama meneguk kemanisan pesan-pesan Ilaahi yang kita bisa kita ambil dari Surah Yusuf ini.

 

 

Pertamanya,kita melihat betapa dalamnya cinta Ra’il kepada Nabi Yusuf A’laihissalam.Ini  di gambarkan dengan begitu mendalam daripada kalimah “Qad syaghaffaha hubaa.. Demi sesungguhnya,wanita itu telah mabuk cinta !”.

 

Cinta Ra’il di sini memang istimewa. Sejak awal, cinta yang dirasakannya kepada Yusuf selalu didominasi oleh kebutuhan apa yang ada di antara dua paha. Ia begitu terobsesi secara fisik pada lelaki tampan di dalam rumahnya itu. Dorongan birahi dan libido yang begitu menggebu seakan telah memutus urat malunya. Bahkan dalam tataran masyarakat paganis, ia dilecehkan karena tindakannya ingin memperkosa seorang lelaki yang tidak lain dianggap sebagai budak rumahnya.

 

Betapa dalamnya cinta berahii yang di rasakan Ra’il itu mampu menjadikannya sebagai perempuan yang kejam dan melakukan kebohongan terhadap orang lain, fitnah yang keji kepada seorang lelaki jujur dan suci, tipu daya terhadap perempuan lain yang menghinanya, dan kezhaliman memenjarakan orang lain yang tidak bersalah.

 

Kesalahan yang ia lakukan telah bertumpuk-tumpuk hanya untuk memuaskan perasaannya untuk menundukkan lelaki istimewa yang dicintainya itu.Dan dari apa yang dilakukannya itu ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan Yusuf semakin eksis dengan keperibadian dan prinsip-prinsip hidupnya. Ia mampu membersihkan diri dari berbagai kotoran fitnah meskipun harus bersiksa-siksa diri di kungkungan penjara. Sebuah tempat yang paling nyaman baginya dari menghindari fitnah para perempuan. Dan dari dalam penjara pula ia dengan penuh kebijaksanaan mampu menyusun strategi dan langkah-langkah taktis untuk membongkar kedok kezhaliman dan menancapkan pilar keadilan di langit Mesir.

 

Ketika kebenaran telah menjernih, ia bebas. Dan siapa-siapa yang tersalah pun bertaubat. Ra’il berada di titik balik kehidupan. Apa yang dilakukan Yusuf menjadikannya semakin respek kepada lelaki itu, begitu Anis Matta menyebutnya dalam buku judulnya Serial Cinta. Kini perasaan dan kecenderungan yang dirasakannya berubah. Dari gejolak hewani menjadi cinta suci yang tinggi. Dari kerendahan lumpur kali, meninggi ke langit matahari. Dari yang ada di antara dua kaki, menuju yang ada di sekuntum hati.

 

Jika Umar bin Khathab telah menghijrahkan cintanya, dari kecintaan pada diri ke kecintaan pada Sang Nabi, maka Ra’il bin Ra’ayil telah mentransformasikan cintanya, dari cinta semata syahwati ke cinta segenggam hakiki, dari cinta berahi menuju cinta Syariee,Ia mengubah sekalut benang biru, menjadi lukisan langit berpelangi ungu. Ia mampu merubahnya karena ia tahu bahwa ia mau. Dan ia mau merubahnya karena ia tahu bahwa ia mampu. Ketika Umar mengubah ‘siapa’ dalam hirarki cintanya, Ra’il mengubah ‘apa’ dalam keistiqamahan arah cintanya.

 

“Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia: kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia. Dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga)” (Al-Imran : 14)

 

“Walaupun demikian), ada juga di antara manusia yang mengambil selain dari Allah (untuk menjadi) sekutu-sekutu (Allah), mereka mencintainya, (memuja dan mentaatinya) sebagaimana mereka mencintai Allah; sedang orang-orang yang beriman itu lebih cinta (taat) kepada Allah. Dan kalaulah orang-orang yang melakukan kezaliman (syirik) itu mengetahui ketika mereka melihat azab pada hari akhirat kelak, bahawa sesungguhnya kekuatan dan kekuasaan itu semuanya tertentu bagi Allah, dan bahawa sesungguhnya Allah Maha berat azab seksaNya, (nescaya mereka tidak melakukan kezaiman itu)”

(Al-Baqarah : 165)

 

Dari mereka kita belajar.Bahawa,jodoh yang di tentukan oleh Allah SWT buat kita,itu sudah pasti akan siapa gerangan orangnya. Dan,ketentuan ini tidak akan pernah berubah.Cuma, yang menjadi persoalan,pilihan dan ujian ke atas kita ialah akan hal bagaimana kita mendapatkan jodoh itu.Apakah kita memperolehi zauj/zaujah yang sudah di takdirkan buat kita itu dengan redha Allah atau murka Allah?Apakan landasan dan gagasan cinta yang kita bangunkan dalam membina rumah tangga itu.Adakah ia cinta berahi atau cinta Syariee? Fikir-fikirkanlah.

 

Ayuh! Mari kita transformasikan cinta kita.Dari berahi menuju Syariee.

 

Keduanya,kita melihat betapa parahnya keadaan masyarakat Mesir ketika itu. Hal ini di gambarkan dengan begitu mendalam dari gosip-gosip wanita-wanita pembesar itu.

 

“Qad syagaffaha hubba..” begitu para wanita itu sibuk bergosip sesama mereka.Sibuk memperkatakan dosa dan kesalahan orang lain. Sibuk menghebahkan dan mengkhabarkan keaiban Zulaikha pada khalayak ramai.

 

Subhanallah.Di sini kita belajar.Peristiwa ini terus berulang,dan terus berulang.Masyarakat hari ini terus mewarisi kejahilahan wanita-wanita kota Mesir.Lihat saja,betapa larisnya tabloid yang menghebahkan berita-berita penceraian artis.Kisah artis atau Ustaz di tangkap khalwat menjadi ‘gula’ dalam masyarakat.Membuka keaiban Muslim lainnya menjadi hal yang di banggakan,bahkan syarikat penyiaran dan percetakan mendapat jutaan ringgit pulangan keuntungan.Dan,para wanita terus mendominasi hal ini(juga tidak terkecuali para lelaki,dan lelaki yang berlagak menjadi wanita).

 

Kepada mereka ini,saya katakan.(Saya bermohon pada Allah SWT semoga ia menjadi peringatan buat diri saya sendiri).

 

Kepada mereka yang begitu ghairah ber’mesyuarat tingkap’ untuk mengatakan hal-hal orang lain.Kepada mereka yang begitu teruja dengan khabaran dan siaran yang menghebahkan kesalahan dan keaiban orang.

 

Relakah kalau kalian jadi sasaran celaan orang lain? Mahukah kalian kalau kakak atau adik kandung kalian menjadi buah bibir masyarakat terhadap kekeliruan yang dilakukannya? Ridhakah kalian kalau ada orang membuka aib (cela) diri kalian di depan orang banyak? Kalau kalian tidak suka itu semua, begitu juga dengan orang lain,semuanya tidak akan menyukainya.

 

Karena itulah, Allah swt Yang Maha Sayang kepada hamba-hamba-Nya yang setia beriman, memperingatkan sejak awal akan bahaya ghibah (menggunjing), membuka aib seseorang. Peringatan Allah diungkapkan dengan bahasa komunikasi yang sangat efektif, dengan cara memberikan perumpamaan orang yang menggunjing saudaranya seperti menyantap daging segar saudaranya yang sudah menjadi mayit itu. Artinya kalau memakan daging mayit tidak disukai, maka mengapa orang suka membicarakan keburukan dan aib saudaranya yang jauh dari pengetahuannya.

 

“..dan jangan pula setengah kamu mengumpat yang lain. Sukakah salah seorang kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentu kamu benci memakannya. Takutlah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Surah al-Hujurat : 12)

 

Kadang orang tidak sadar ia telah melakukan ghibah dan saat diperingatkan ia menjawab “Yang saya katakan ini benar adanya!” Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dgn tegas menyatakan perbuatan tersebut adalah ghibah. Ketika ditanyakan kepada beliau bagaimana bila yg disebut-sebut itu memang benar adanya pada orang yg sedang digunjing-kan beliau menjawab “Jika yg engkau gunjingkan benar adanya pada orang tersebut maka engkau telah melakukan ghibah dan jika yg engkau sebut tidak ada pada orang yg engkau sebut maka engkau telah melakukan dusta atasnya.

 

Ketahuilah,bahawa Ghibah tidak terbatas dgn lisan saja namun juga bisa terjadi dgn tulisan atau isyarat seperti kerdipan mata gerakan tangan cibiran bibir dan sebagainya. Sebab intinya adl memberitahukan kekurangan seseorang kepada orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita datang kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Ketika wanita itu sudah pergi ‘Aisyah mengisyaratkan dgn tangannya yg menunjukkan bahwa wanita itu berbadan pendek. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantas bersabda “Engkau telah melakukan ghibah!” Semisal dengan ini adalah gerakan memperagakan orang lain seperti menirukan cara jalan seseorang cara berbicaranya dan lain-lain. Bahkan yg demikian ini lebih parah daripada ghibah kerana di samping mengandung unsur memberitahu kekurangan orang juga mengandung tujuan mengejek atau meremehkan.

 

Kepada mereka ini,dengan penuh cinta kasih,saya mengajak kalian untuk menghayati hadis ini.

 

“Wahai orang-orang yang percaya kepada lisannya, tapi tidak mempercayai hati nuraninya”, sabda baginda Rasulullah Sholla Allahu A’laihi Wassalam, “janganlah kalian menggunjing saudaramu sesama muslim, jangan pula membuka auratnya (aibnya), karena siapa yang membuka aurat saudaranya niscaya Allah akan membuka aib dirinya, barang siapa yang Allah buka aib dirinya, Dia akan mencela dirinya walau di dalam rumahnya” (H.R. Ibnu Abid-Dunya, Abu Daud dari hadits Abu Burzah dengan sanad yang jayyid).

 

Shodaqa Rasulullah ShollaAllahu A’laihi Wassalam.

 

……………………………………………………………………………………..

 

Tamat siri ke-2 dari serial tadabbur surah Yusuf.semoga ada manfaatnya buat saya dan teman-teman semua.Semoga ada pahalanya buat saya.Saya berdoa dan bermohon kepada Allah SWT agar tetap mengikhlaskan hati saya dan membantu saya dalam menjalani kehidupan ini.PadaNYA saya berharap dan hanya padaNYA saya mengadapkan seluruh wajah saya.Begitu juga saya doakan buat teman-teman semua.Semoga Hidayah dan TaufiqNYa kan senantiasa memayungi kita.InsyaAllah.

 

Bersambung siri ke-3 dari serial tadabbur Yusuf

 

Yusuf Dewasa :Keteladanan dalam kepimpinan,keperibadian dan kehidupan.

 

InsyaAllah.



<Photo 1>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s