Karena Rasul Menciummu

 

Karena Rasul Menciummu

Jadikan cintaku padaMu ya Allah

Berhenti di Titik ketaatan

Meloncati rasa suka dan tak suka

 

Karena aku tahu, mentaati-Mu dalam hal yang tak kusukai

Adalah kepayahan, perjuangan, dan gemilang pahala

Karena seringkali ketidaksukaanku, hanyalah bagian dari ketidaktahuanku

Saat langit Makkah menyilaukan dan tapak-tapak kaki harus berjingkat di pasir panas, lelaki tinggi besar itu menyempurnakan thawafnya. Beberapa hari lalu ia berangkat dari Madinah. Dan disinilah, di dekat Ka’bah, dulu ia berangkat berhijrah disaksikan beberapa mata yang takut-takut takjub, memandangnya dengan menyimpan hasrat benci namun tak berdaya. Pada mereka ia berkata. “Saksikan oleh kalian bahwa putera Khaththab akan berhijrah! Barangsiapa yang ingin anaknya yatim, istrinya menjadi janda, dan ibunya meratap-ratap, silakan ia cegat aku di balik gunung Abu Qubais!”

Hari ini, mengenang kebodohannya di masa jahiliah sekaligus menegaskan kemurnian tauhidnya ia berkata kepada Hajar Al Aswad, batu hitam di pojok Ka’bah itu. “Sesungguhnya engkau hanyalah sebuah batu” serunya, “Yang tak akan pernah bisa memberi manfaat ataupun bahaya. Demi Allah, seandainya aku tak pernah melihat Rasulullah menciummu, aku takkan pernah sekalipun sudi menciummu!”

‘Umar benar. Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan terkibas-kibas. Seperti para mujahid sejati ketika menghayati ayat ini:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” Q.s. Al Baqarah (2):216

 

 

Ketika Taat, Dia tak Merisaukan Apapun

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya: kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan  ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yasrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangat. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang paling mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah. dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shiffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. “Julaibib” begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”

” Siapakah orangnya ya Rasulallah” kata Julaibib, ” Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali, tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan baju Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah. “Menikahkan puteri kalian”.

“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami”.

“Tetapi bukan untukku” kata Rasulullah. “Kupinang puteri kalian untuk Julaibib”.

“Julaibib?”  nyaris terpekik ayah sang gadis.

“Ya. Untuk Julaibib”

“Ya Rasulallah”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”

“Dengan Julaibib?” istrinya berseru. “Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkar dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun. “Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”.  Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini:
Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.s. Al-Ahzaab (33):36)

Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah. “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

Kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan oleh Rasulullah untuk Julaibib. Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka.  Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gemilang pahala. Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Istri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tidak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya. Istri Juliabib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali dia itu di telinga kita. “Ya Allah” lirih Sang Nabi, “Limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya!

Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertaqwa kepadaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak. Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita. Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat. Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaatiNya.

Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya.

Saat ia syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu pada sahabatnya. Maka ia bertanya-tanya di akhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak ya Rasulallah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak ya Rasulallah!” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela napafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para sahabat tersadar. ”Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat beliau untuk Julaibib akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya”

Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.

Tetapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikan-Nya.

 

[Dengan apologi kepada Salim A Fillah.Penulis asal buku Jalan Cinta Para Pejuang]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s